Selasa, 16 Agustus 2016

Karena Kangen Kucurahkan Melalui Bercinta Dengan Pacarku

Siang itu di sebuah rumah yang cukup asri, seorang gadis yang berambut panjang terurai dengan raut wajah yang manis terlihat sedang menanti kedatangan seseorang. Tiba-tiba datang seorang pemuda yang mengenakan kaos biru di padu dengan jeans warna serupa.
Dia berjalan menuju kerumah gadis yang sedang asyik duduk di depan rumahnya, si gadis sesekali mengawasi depan rumahnya kalau-kalau yang di tunggu sudah datang atau belum. Dengan senyum yang manis kemudian gadis itu menyapa sang pemuda yang kelihatan rapi, harum dan segar siang itu.
“Hallo Mas Adietya sayang..” sapanya dengan panggilan khas yang mesra ke padaku sebagai pacar nya.
“Hallo juga.. Sayang,” balasku pendek.
“Sudah lama yah nunggunya,” lanjutku lagi.
Antara aku dan si gadis memang terlihat mesra di setiap kesempatan apa aja. Baik itu melalui panggilan ataupun sikap terhadap masing-masing. Seperti halnya siang itu, yang kebetulan keadaan di rumah sang gadis nampaknya sedang sepi, dia bilang ortunya lagi ke rumah saudaranya yang pulangnya nanti sore.
Dengan masih menyimpan rasa rindu yang tertahan, aku memeluk gadis pujaanku dengan mesra, sambil membisikan kata.
“Adiet kangen banget nih sayang,” bisikku di telinga nya sambil mencumbu daun telinganya.
“aku juga kangen Mas sayang..” jawabnya pelan.
Kemudian kita terlibat perbincangan sesaat, yang selanjutnya aku merengkuh bahu si gadis dan mengajaknya masuk ke dalam ruangan tamu. Di sofa kita duduk sangat dekat sekali, sampai-sampai kita bisa merasakan hembusan nafas masing-masing, saat kita bertatapan wajah.
“Kamu cantik sekali siang ini sayang..” kataku lembut.
Sembari tanganku meremas kedua tangannya dan kemudian aku lanjutkan untuk menarik tubuhnya lebih rapat. Si gadis tak menjawab hanya tersipu raut wajahnya, yang di ekspresikan dengan memelukku erat.
Tanganku kemudian memegang kedua pipinya dan tak lama bibirku sudah mengulum bibirnya yang terbuka sedikit dan bentuknya yang ranum, sembari dia memejamkan kedua bola matanya.
Lidahku bermain di rongga mulutnya untuk memberikan perasaan yang membuat nya mendesah sesaat setelahnya. Di balik punggungnya jemari tanganku dengan lembut masuk ke dalam kaos warna putihnya dan mencoba membuka kaitan bra dari belakang punggungnya. Dengan dua kali gerakan, terbukalah kaitan bra hitamnya yang berukuran 36b itu.
Jemari tanganku langsung mengelus tepian payudaranya yang begitu kenyal dan menggairahkan itu. Dan tak lama setelah itu jariku sudah memilin putingnya yang mulai keras, yang nampaknya dia mulai menikmati dan sudah terangsang diiringi dengan desahannya yang sensual.
“Ohh.. Mas sayang..” desahnya lembut.
Sambil memilin, bibirku tak lepas dari bibirnya dan menyeruak lebih ke dalam yang sesekali mulutku menghisap lidahnya keluar masuk. Selanjutnya dengan gerakan pelan aku membuka kaos putihnya dan langsung mulutku menelusuri payudaranya dan berakhir di putingnya yang menonjol kecil. Aku menjulurkan lidahku tepat di ujung payudaranya, yang membuat dia menggelinjang dan mendesah kembali.
“Ohh.. Mas sayang.. Enak sekali.”
Sesaat aku menghentikan cumbuanku kepadanya dan memegang kedua pipinya kembali sambil membisikkan kata.
“Sayang.. Payudara kamu sungguh indah bentukya,” bisikku lirih di telinganya.
Sang gadis hanya mengulum senyumnya yang manis sembari kembali memelukku mesra. Dengan mesra aku mengajak si gadis berjalan ke arah kamarnya yang lumayan besar dan bersih. Layaknya kamar seorang gadis yang tertata rapi dan aroma segar wangi bunga-bunga yang ada ditaman depan kamarnya terhirup olehku saat memasukinya.
Tak berselang lama kemudian, aku mengangkat tubuh sexy sang gadis dan meletakkannya di atas meja belajar yang ada di kamarnya. Sang gadis masih mengenakan celana jeansnya, kecuali bagian atasnya yang sudah terbuka saat kita berasyik masyuk di ruang tamu. Perlahan aku memeluk tubuh sang gadis kembali, yang aku lanjutkan dengan menjelajahi leher jenjangnya dengan lembut.
Bibirku mencumbui setiap senti permukaan kulitnya dan berpindah sesaat ketika lidahku mencapai belakang telinganya dan membuat tubuh sang gadis kembali bergetar pelan. Desahan dan getaran tubuhnya menandakan kalau sang gadis sudah sangat terangsang oleh setiap cumbuanku.
Tanganku tak tinggal diam sementara bibirku mencumbui setiap titik sensitif yang ada di tubuh sang gadis. Jemariku mulai mengarah kebawah menuju celana jeans nya dan tanpa kesulitan aku menurunkan resliting celananya yang nampak olehku pinggiran celana dalam warna hitamnya yang sexy.
Kemudian aku melemparkan celana jeansnya ke lantai dan seketika tanganku dengan lembut merengkuh bongkahan pantatnya yang padat berisi. Aku mengelus kedua bongkahannya pelan dan sesekali jariku menyelip di antara tepian celana dalamnya yag membuat bibirnya kembali bergetar mendesah lirih.
“Oh.. Mas sayang..” desahnya parau.
Bibirku yang sejak tadi bermain di atas, kemudian berpindah setelah aku merasakan cukup untuk merangsangnya di bagian itu. Lidahku menjulur lembut ketika mencapai permukaan kulit perutnya yang berakhir di pusarnya dan bermain sejenak yang mengakibatkan tubuhnya menggelinjang kedepan.
“Ssshh..” desisnya lirih.
Perlahan kemudian aku mulai menurunkan celana dalamnya dan aku membiarkan menggantung di lututnya yang sexy. Kembali aku melanjutkan cumbuan yang mengarah ke tepian pangkal pahanya dengan lembut dan sesekali aku mendengar sang gadis mendesah lagi. Aku mencium aroma khas setelah lidahku mencapai bukitnya yang berbulu hitam dan lebat sekali, namun cukup terawat terlihat olehku sekilas dari bentuk bulu vaginanya yang menyerupai garis segitiga.
Dan tak lama lidahku sudah menjilati bibir luar vaginanya dengan memutar ujung lidahku lembut. Kemudian aku lanjutkan dengan menjulurkan lebih ke dalam lagi untuk mencapai bibir dalamnya yang sudah sangat basah oleh lendir kenikmatan yang di keluarkan dari lubang vaginanya. Tubuh sang gadis mengelinjang perlahan bersamaan dengan tersentuhnya benjolan kecil di atas vagina miliknya oleh ujung lidahku.
“Ohh.. Mas sayang” jeritnya tertahan.
“Aku nggak kuat Mas..” tambahnya lirih.
Yang aku lanjutkan dengan menghentikan tindakanku sesaat. Aku menurunkan tubuh sang gadis dari atas meja, kemudian aku berdiri tepat di hadapanya yang sudah berjongkok sambil menatap penisku yang sudah berdiri tegang sekali.
Dengan gerakan lincah bibir sang gadis langsung mengulum kepala penisku dengan lembut dan memutar lidahnya di dalam mulutnya yang mungil dan memilin kepala penisku yang mengkilat. Tubuhku bergetar hebat ketika menerima semua gerakan erotis mulai dari jemari tangannya yang lembut mengelus batang penisku serta bibir dan lidahnya yang lincah menelusuri buah zakarku.
“Ohh.. Sayang” desahku pelan.
Rambutnya yang hitam panjang ku remas sebagai expresi dari kenikmatan yang mengalir di sekujur tubuhku. Setelah beberapa saat sang gadis menjelajahi organ sensitifku, aku merengkuh bahunya serta memintanya berdiri dan kembali aku mendudukkan pantatnya yang padat berisi di tepian meja sementara salah satu kaki jenjangnya menjuntai ke lantai.
Dengan gerakan lembut aku mengangkat paha kirinya dan bertumpu pada lenganku, di saat selanjutnya tangan kiriku memegang batang penisku yang sudah sangat tegang sekali menahan rangsangan yang menggelora dan mengarahkannya tepat di bibir vaginanya yang sudah basah oleh lendir birahi. Pada saat bersamaan ujung telunjukku juga mengelus belahan antara anus dan bibir bawah vaginyanya.
“Oh.. Mas sayang.. Please.. Aku enggak kuat” jeritnya lirih.
Aku masih belum merespon atas jeritan lirihnya, sebaliknya aku menundukkan kepala untuk kembali menjilati kedua payudaranya bergantian dan berakhir di puting payudara yang sebelah kiri. Gerakanku membuatnya menggelinjang dan semakin keras desahannya terdengar.
“Ohh.. Mas sayang.. Sekarang yah” pintanya lirih, dengan mata yang sayup penuh nafsu.
Perlahan aku mengarahkan batang penisku tepat di belahan vaginanya dan mendorongnya lembut.
“Slepp..” irama yang di timbulkan ketika penisku sudah menyeruak bibir vaginanya.
Kembali bibir sang gadis mengeluarkan desahan sexynya.
“Hekk.. Mmm..” gumamnya lirih.
Setengah dari batang penisku sudah masuk ke dalam vaginanya, yang aku padukan dengan gerakan bibirku mengulum bibirnya yang ranum serta memilin dan memutar ujung lidahnya lembut.
Untuk menambah kenikmatan buat dirinya, aku mulai memajukan sedikit demi sedikit sisa batang penisku ke rongga vaginanya yang paling dalam dan aku mengarahkan ujung penisku menyentuh G-spotnya. Mulut sang gadis menggumam lirih karena mulutku juga masih mengulum bibirnya.
“Mmm.. Mmm” gumamnya.
Sambil menahan nikmat, tangan sang gadis menyentuh buah zakarku dan memijitnya lembut yang membuat tubuhku ikut mengelinjang menahan kenikmatan yang sama. Pinggulku membuat gerakan maju mundur untuk kesekian kalinya dan sepertinya sang gadis akan mendapatkan orgasme pertamanya ditandai dengan gerakan tangannya yang merengkuh bahuku erat dan menggigit bibir bawahnya lirih.
“Ohh.. Mas sayangg..” jeritnya bergetar.
Bersamaan dengan aliran hangat yang kurasakan di dalam, rongga vaginanya menjepit erat batang penisku. Tangannya merengkuh bongkahan pantatku serta menariknya lebih erat lagi. Tak lama berselang sang gadis kemudian tersenyum manis dan mengecup bibirku kembali sambil mengucapkan kata.
“Thanks yah.. Mas sayang”ucapnya mesra.
Aku membalasnya dengan memberikan senyum dan mengatakan.
“Aku bahagia.. kalau sayang bisa menikmati semua ini” ucapku kemudian.
Hanya beberapa saat setelah sang gadis mendapatkan orgasmenya, aku membalikkan tubuhnya membelakangiku sembari kedua tanganya berpegang pada pingiran meja. Dengan pelan kutarik pinggangnya sambil memintanya menunduk, maka nampaklah di depanku bongkahan pantatnya yang sexy dengan belahan vaginanya yang menggairahkan.
Perlahan aku memajukan tubuhku sambil memegang batang penisku dan mengarahkannya tepat di bibir vaginanya, sementara kaki kananku mengeser kaki kanannya untuk membuka pahanya sedikit melebar. Dengan gerakan mantap penisku menyeruak sedikit demi sedikit membelah vaginanya lembut.
“Slepp..” masuklah setengah batang penisku ke dalam rongga vaginanya.
“Sss..” sang gadis mendesah menerima desakan penisku.
Tanganku perlahan meremas payudaranya dari belakang mulai dari yang sebelah kiri dan dilanjutkan dengan yang sebelah kanan secara bergantian. Sementara pinggulku memulai gerakan maju mundur untuk kembali menyeruak rongga vaginanya lebih dalam.
Posisi ini menimbulkan sensasi tersendiri dimana seluruh batang penisku dapat menyentuh G-spotnya, sementara tanganku dengan bebas menjelajahi seluruh organ sensitifnya mulai dari kedua payudara berikut putingnya dan belahan anus dan bagian tubuh lainnya.
“Ohh.. Mas sayang” desahnya.
Ketika ujung jemariku menyentuh lubang anusnya sambil aku berkonsentrasi memaju mundurkan penisku. Setelah cukup beberapa saat aku menggerakan pinggulku memompa belahan vaginanya. Dengan gerakan lembut aku menarik wajahnya mendekat, masih dalam posisi membelakangiku aku mengulum bibirnya dan meremas kedua payudaranya lembut.
“Sayang aku mau keluar nih,” bisiku lirih.
“Ohh.. Mas sayang aku juga mau” sahutnya pelan.
Aku mempercepat gerakanku memompa vaginanya dari belakang tanpa melepas ciumanku di bibirnya dan remasan ku di kedua payudaranya. Pada saat terakhir aku mencengkeram kedua pinggulnya erat dan memajukan penisku lebih dalam.
“Creett.. Ohh.. Sayang,” jeritku kemudian.
Menyemburlah spermaku yang cukup banyak ke dalam rongga vaginanya dan beberapa tetes meleleh keluar mengalir di kedua pahanya. Untuk beberapa saat aku mendiamkan kejadian ini sampai akhirnya penisku mengecil dengan sendirinya di dalam vaginanya yang telah memberikan kenikmatan yang tak bisa aku ungkapkan.
Demikianlah rasa rinduku terhadap pacar ku setelah beberapa lamanya tidak saling bertemu


Jumat, 12 Agustus 2016

Berhubungan Dengan Ibu Mertua Yang Masih Sexi

Cerita ini  bermula dari setahun yang lalu sampai sekarang, dimana dapat dibilang telah empat tahun saya menikah dengan Dian istri saya. Umur saya sekarang sudah 32 tahun, dan masih segar, pantasnya dibilang orang masih berumur 25 tahun dilihat dari wajah. Maklum, imut-imut padahal tinggi badan sudah 175 cm dengan berat badan 67 kg, dangan kulit sawo matang, karena saya asli orang melayu.
Saya mempunyai mertua yang sangat perhatian dengan semua aktivitas saya dan Dian istri saya. Istri saya adalah anak tunggal dari keluarga yang dapat dikatakan kehidupannya lumayan mewah. Tidak heran sewaktu saya menikahi Dian langsung diberikan satu mobil Mercy yang masih keluaran baru, sedangkan saya hanya karyawan Swasta perusahaan Asing di bidang Export-Inport dengan jabatan sebagai Finance manager.
Dimana di perusahaan tempat saya bekerja pemegang saham terbesar dari Indonesianya adalah mertuaku, jadi memang saya berkenalan dengan anak dari pemegang saham terbesar di perusahaan saya berkerja. Saya berkenalan pada saat saya ada urusan penting dengan Pak Sutedjo, merupakan nama samaran mertua saya.
Karena adanya pengembangan perusahaan dengan skala International, yang waktunya saat itu sudah sangat mepet, maka saya langsung saja ke rumah Pak Sutedjo di kawasan elit perumahan di Pondok Indah. Sewaktu saya masuk ke rumah itu, di situlah saya bertemu dengan Dian, dan dia mengajak saya mengobrol di teras rumahnya sambil menunggu Pak Sutedjo sedang mandi.
Setelah urusan kantor selesai, saya semakin dekat dengan Dian dan pacaran selama 1 tahun dan langsung menikah. Sampai sekarang kami dikaruniai 2 orang anak, dan kami masih tinggal di rumah mertua, maklum karena istri saya adalah anak semata wayang. Saya harus mengalah tinggal di rumah mertua atau Pondok Mertua Indah istilah sekarang.
Okey, kita langsung saja pada inti ceritanya. Waktu itu keadaan cuaca malam yang sangat sejuk dan ditambah rumah full AC semakin menambah dinginnya malam itu. Saat itu Dian istri saya sedang pergi berlibur dengan anak-anak ke Bali.
Saya tidak ikutan pergi karena masih ada urusan kantor yang tidak dapat ditinggalkan, dimana saya sudah diangkat menjadi salah satu Direktur bagian pengembangan, sedangkan mertua perempuan saya tidak ikutan karena kurang enak badan, jadi yang pergi hanya Dian istriku beserta kedua anakku ditemani 2 orang adik perempuanku.
Malam ini terasa dingin sekali. Biasanya disaat cuaca begini libidoku akan meledak-ledak, dan repotnya adalah Dian istri saya saat ini tidak ada disini, sampai pening saya menahannya. Sambil mengenakan baju tidur, saya mengarah ke kamar tempat tidur. Tapi sewaktu saya mau masuk ke kamar, terdengar suara panggilan mertua memanggil saya.
Jach.., kamu udah tidur belon..? tanyanya.
Belon Bu.. jawab saya sekenanya.
Saya pikir Bapa mertua saya ada di rumah, maka saya mengambil keputusan tidur saja. Tidak lama Ibu mertua saya memanggil lagi.
Jach.., kamu suruh si Joko supir kita masukin mobil, karena tidak jadi Bapa datang dari USA. Katanya masih ada urusannya di sana.
Saya pun memanggil si Joko dan menyuruhnya memasukkan mobil ke dalam garasi. Setelah itu mertua saya memanggil saya lagi, Jach.., kamu udah makan belon?
Udah Bu. kata saya.
Tidak sampai disitu, dia juga menanyakan sudah minum susu apa belum. Memang dengan perhatiannya yang terlalu berlebihan itu kadang membuat saya jengkel, itu lah mertua saya yang sangat perhatian dan penyayang.
Sebelum tidur saya pikir lebih baik saya menonton televisi, kebetulan ada film enak di salah satu stasiun tv. Saking asyiknya saya menonton televisi, saya kaget waktu Ibu mertua saya menegur dari belakang.
Eh.., Ibu belon tidur..? sapa saya padanya sedikit gugup.
Ini Jach, badan saya terasa ngilu dan kepala saya pusing, Jach tau nggak mijit..? tanyanya.
Ya tau sih nggak terlalu, tapi kalo sekedar sih bisalah, jawab saya.
Ya udah kamu tolong Ibu dong pijitin..! pintanya sambil duduk di sebelah saya.
Dengan sedikit malas-malasan saya bangkit dari tempat duduk saya, dan sekarang ibu mertua saya duduk di karpet sambil menonton televisi. Saya duduk di sofa sambil memijat kepalanya dan lehernya.
Perasaan saya belum ada yang ganjil dan masih tetap normal, tapi entah setan apa yang datang yang menghinggapi diri ini, sewaktu saya memijat lehernya terlihat oleh mata saya secara jelas buah dadanya yang masih sekal dan mancung. Saat itu Ibu mertua saya hanya mengenakan daster tipis.
Saya sangat penasaran saat itu, karena setelah saya mencuri-curi pandang ke buah dadanya, saya sedikit tersentak. Waktu itu terlihat oleh saya samar-samar kalau dia tidak menggunakan apa-apa lagi di balik dasternya. Memang dalam situasi begini siapa pun orangnya kalau masih laki-laki normal pasti akan naik nafsu melihat pemandangan yang beginian.
Tangan saya mulai saya turunkan memijat ke pundaknya, dan sewaktu memijat lengan atas tangannya, saya agak menyenggol sedikit buah dadanya dan terasa sangat lembut dan kenyal. Semakin saya senggol, dia semakin gelisah, dan disaat saya melakukan penyenggolan, saya perhatikan tidak ada seperti perasaan curiga.
Saat itu juga saya berusaha mendekatkan bibir saya ke daerah tengkuknya dan menghembuskan nafas yang dapat menggelikan sekaligus menaikkan nafsunya. Sedikit agak berat nafasnya terdengar. Tidak habis sampai disitu usaha saya, saya berusaha menempelkan tangan saya ke payudaranya dan memijatnya dengan lembut.
Akh.. ssh.. Jach..! terdengar suara Ibu mertua saya dan mengagetkan saya sejenak.
Secepat kilat dia memutar dan menghadap ke saya sambil berdiri dan memeluk kepala saya. Kemudian dia menciumi wajah saya dan dikulumnya bibir saya sambil berbisaik, Jach.. kita ke kamar yo..!
Cepat-cepat saya gendong tubuhnya ke kamar, dan langsung saya telanjangi. Kebetulan dia hanya mengenakan daster, tinggal saya bukakan pakaian saya sendiri. Kami sekarang sudah dalam keadaan telanjang bulat.
Kami bergulat dengan ganas di atas tempat tidurnya. Saya mencumbu Ibu mertua saya sendiri. Ibu mertua saya juga tidak sabaran dan langsung mengarahkan batang kemaluan saya ke lubang vaginanya yang belum sempat saya garap, maklum orang kampung kebiasaan main begitu, langsung to the point saja. Terpaksa saya melayaninya secepat itu, dan sewaktu penis saya mulai tenggelam ke dalam vaginanya, terasa agak dipijat-pijat.
Akh.. akh.. huss.. terus..! desahnya saat itu.
Saya mendorong sedikit, dan Bless..! tenggelam seluruh batang kemaluan saya ke dalam vaginanya.
Akh.. akh..! lenguhan Ibu mertua saya sewaktu ujung penis saya menyentuh dinding rahimnya.
Pelan-pelan batang kemaluan saya mulai saya majumundurkan.
Akh.. ah.. huss.. terus..! desahnya.
Saya melaju dengan pelan dan lembut. Tidak berapa lama Ibu mertua saya mulai mengimbangi dari bawah.
Terus.. terus.. Jach.., aduh nikmatnya, enak kali punya kamu. Beruntung Dian memilikimu.., itulah kata-kata yang keluar dari mulutnya, pujian dari mulut orang yang saya hormati selama ini.
10 menit sudah kami saling berpacu. Tidak puas dengan gaya pertama, kami melanjutkan ke gaya kedua. Sekarang dia meminta posisinya berada di atas. Hebat benar dia, saya langsung saja mencabut dan tidur telentang. Sekarang dia mengangkangi batang penis saya dan mengarahkannya ke vaginanya.
Kemudian, Husst.. akh.. bless..! masuk semuanya tanpa sisa.
Saya merasakan seakan-akan terbang ketika digoyangnya pinggangnya dengan liar.
Plek.. clok.. kuclok..! begitulah terdengar suara dari hasil peraduan antara paha saya dengannya.
30 menit sudah kami melakukannya, sekarang saya memangku dengan pisisi duduk saling berhadapan. Kami mengejar kenikmatan yang sangat dalam saat itu (cuaca saat itu sangat mendukung). Kepala batang kemaluan saya ngilu rasanya.
Ibu mertua saya sudah mulai liar, rupanya dia sudah mulai mencapai orgasmenya yang ke tiga kalinya, sehingga mulai banjir lagi dan terasa semakin licin dan geli terasa dinding vaginanya memijat-mijat penis saya. Hanya berjalan sebentar, terasa sudah berada di kepala penis saya lahar yang mau menyembur.
Crot.. crot.. cret..! saya semburkan air kenikmatan saya ke dalam rahimnya yang dulunya tempat berdiamnya Dian istri saya. Sebentar kami terdiam menikmati sisa-sisa kenikmatan yang barusan kami capai.
Setelah kami istirahat setengah jam, kami mandi bareng ke bathup. Kami melakukannya sekali lagi di kamar mandi dan 2 kali lagi di malam hari, di tempat tidur mertua saya. Begitulah kami melakukannya selama Dian istri saya berada di Bali.
Dan sekembalinya mereka dari Bali saya langsung menyetubuhi Dian, karena saya waktu itu sempat terangsang dengan Ibu mertua saya. Ternyata Ibu mertua saya saat itu mengetahuinya. Pagi-pagi Ibu mertua memberi kode yang sudah kami sepakati dulu.
Kami melakukan dengan hati-hati, takut nanti berabe. Sampai saat ini kami masih melakukan 1 kali 2 kali sehari.